Tahun ini usiaku menginjak tahun ke 23. Usia muda yang bisa dibilang cukup matang dan produktif untuk ukuran seorang anak manusia. Tentu saja tak hanya aku, ada ribuan pemuda 23 tahun di negeri ini. Sudah lulus kuliah dengan menyandang gelar di belakang nama, bekerja untuk mencapai kemapanan finansial, melanjutkan studi untuk memperdalam ilmu, mengabdi untuk bangsa, mengikuti berbagai program pertukaran pelajar ke luar negeri, bahkan menjadi seorang Puteri Indonesia, dan ataupun langsung menyempurnakan separuh agama melalui upacara sakral pernikahan, semuanya tergantung pada pilihan hidup masing-masing individu muda.
sesaat setelah ingatan berubah menjadi kenangan, aku baru tau bahwa smua kenangan itu indah (•˘⌣˘•)
Senin, 23 Februari 2015
Rabu, 04 Februari 2015
Terima Kasih Dariku Untuk Kita
Artikel tentang hubungan pertemanan ini menggelitik sekali. Aku dibuat mesam-mesem saat membacanya. Semua yang artikel itu katakan memang benar adanya. Kisah pertemanan yang menyenangkan selalu menjadi tempat pulang, menjadi tempat kembali setelah kemanapun kamu berkelana (seolah-olah) mencari teman baru, pengalaman baru, dan bahkan kehidupan baru.
Senin, 26 Januari 2015
Rasa dibalik Toga Wisuda
Perasaanku hari ini tak seperti teman-temanku yang lain, yang
ku tahu mereka berbahagia. Sedangkan perasaanku? Tak karuan. Kami semua
mengawali hari ini dengan kegiatan yang sama, gladi bersih wisuda. Ya, esok dan
lusa ada 1.800-an mahasiswa yang akan dikukuhkan secara resmi menyandang gelar
Diploma, Sarjana, Master, dan Doktor. Aku termasuk salah satu diantara ratusan
sarjana bertoga itu. Dibalik rasa syukurku yang (tentu saja) sangat besar karena telah
berhasil menyelesaikan kuliah dengan (lumayan) baik, ku mengalami ketakutan
besar. Pertanyaan yang tak hentinya terngiang dalam pikiranku adalah ‘akan apa
kamu setelah ini?’, pertanyaan itu ku jawab sendiri dengan jawaban ‘bekerja, aku
belum ingin melanjutkan sekolah lagi’, lalu muncul lagi pertanyaan lanjutannya ‘akan
bekerja dimana?’, sampai pada pertanyaan ini otakku mendadak berhenti berpikir.
Hanya jawaban ‘tidak tahu’ yang reflek muncul. Pikiranku seakan berkata dengan
nada mengejek ‘hey, bagaimana kau tak tahu akan bekerja dimana. Kau seorang
sarjana sekarang !’, semakin tak ingin wisuda saja aku rasanya. Ah, seandainya
saja upacara itu bisa ditunda hingga aku sudah secara resmi terdaftar menjadi
karyawan disuatu perusahaan besar.
Bukan tanpa bekal aku dilepas oleh universitas negeri
kebanggaan warga Semarang ini, bahkan aku dibekali banyak hal untuk menghadapi
dunia keras di luar sana. Hanya mungkin aku yang belum memanfaatkan dengan baik
bekal yang diberikan. Aku pernah punya mimpi kecil, dimana aku sudah diterima
bekerja sebelum hari H wisuda. Sampai H-1 menjelang proses upacara itu, aku
belum juga mendapatkan pekerjaan. Habis sudah deadline-ku untuk tidak menyandang gelar mengerikan pasca wisuda.
Semoga sebelum bulan berganti, aku sudah mendapatkan pekerjaan yang baik dan
sesuai dengan idealisme sederhanaku.
Ayah bilang ini bagian dari proses hidup, yang terpenting
adalah tetap berusaha mencoba. Karena mencoba adalah membuka peluang atas
segala ketidakmungkinan.
Belajar banyak hal, bertemu kawan-kawan hebat, bertemu
kawan-kawan terbaik, mengunjungi banyak tempat, mencicipi hal baru, sungguh kisah
4,5 tahun yang amat sangat pantas disyukuri. Ku percaya, tak ada satupun proses
belajar yang berakhir sia-sia.
Teruslah berikhtiar, karena Tuhan tidak pernah tidur.
Terima kasih untuk semangat yang selalu diberikan ya Mima, Okky, Sabrina,
Dinar.
Terima kasih Kawan terhebat yang tak ada duanya, Mei, Sapta, Reni,
Aghnia.
Terima kasih Partner riset terbaik yang pernah ada, Indah, Isti, Ina,
Fitria, Selfina, Isma.
Terima kasih juga untuk Sesil, Lufthy, Erwin, Edwin, Anjar, Enk sudah
bantu aku urus ini itu.
-Ditulis saat H-1 wisuda, dan menggalau karena belum punya
pekerjaan-
Minggu, 04 Januari 2015
Akhirnyaa, sarjana !
Sudah lama aku tidak bercerita lewat tulisan lagi disini. Mungkin aku sibuk. Entahlah, yang jelas aku mau bercerita lagi hari ini. Banyak sekali cerita menarik yang sudah lama terlewatkan. Ini sudah bulan apa? Januari 2015 ya? Bahkan sudah berganti tahun. Tak terasa, secepat ini waktu berjalan. Aku akan bercerita sedikit tentang bulan September 2014 yang menyenangkan.
Kisahku bersama Indonesia Mengajar
Rasanya sudah lama sekali tidak menulis disini. Kalau diibaratkan kamar kos, blog ini sudah seperti kamar kosan yang ditinggal penghuninya 3 bulan. Kebayang kan kotornya? Bentuknya sudah bukan lagi kamar tapi lebih mirip gudang. Banyak sarang laba-laba disudut-sudut dindingnya, lantainya berdebu, meja dan rak buku pun sama berdebunya. Tebal sekali, seperti rumah-rumah dipinggir jalan yang setiap hari terkena asap hitam kendaraan. Kotor dengan debu tebal dan sarang laba-laba, terus jadi agak mistis. Eh bohong, deng ! Hehe...
Kebetulan pemilik kamar kosan yang ditinggal 3 bulan lamanya itu, aku. Iya, kamar sempit yang jadi lebih mirip gudang itu kamar kosku. Bukan tanpa alasan aku meninggalkannya begitu lama tanpa sempat menengok barang sehari atau dua hari saja. Alasanku kuat, aku diterima menjadi magangers di kantor Gerakan Indonesia Mengajar. Aku juga pernah menulis tentang gerakan inspiratif ini pada postingan terdahulu.
Langganan:
Postingan (Atom)