Sebenarnya sudah dari sebulan yang lalu aku ingin bercerita tentang komunitas relawan keren, namanya TBIM BonBar. Kepanjangan dari Taman Baca Indonesia Menyala Kebon Baru, adalah sebuah taman baca (seperti perpustakaan kecil) yang diinisiatori oleh 3 orang penyala yang tidak kalah keren. Sebut saja kak Reni, kak Ulfa, dan Chenia. Hampir tiga bulan lamanya setiap satu kali dalam seminggu- setiap hari sabtu - saya ikut berkumpul menjadi relawan TBIM BonBar di posko kuning yang terletak di daerah Kebon Baru Tebet, Jakarta Selatan.
sesaat setelah ingatan berubah menjadi kenangan, aku baru tau bahwa smua kenangan itu indah (•˘⌣˘•)
Sabtu, 05 Juli 2014
Selasa, 18 Februari 2014
Seorang Slamet Mustofa
Anak laki-laki kecil nan mungil berkulit hitam itu namanya Slamet Mustofa, teman-teman dan gurunya biasa memanggil ia Mustofa atau Tofa. Umurnya 11 tahun. Ia murid kelas 6 di salah satu sekolah dasar nun jauh disana di sebuah desa di ujung kabupaten Temanggung, SDN 2 PagerGunung. Bukan tak sengaja aku mengenal Mustofa, aku mengenalnya saat aku menjalani pengabdian di desa PagerGunung melalui program-program KKN.
Sabtu, 28 Desember 2013
Western Homemade "We Made Taste"
Untuk mahasiswa gaul Tembalang yang suka sama western food tapi ngga pake mahal boleh banget dateng ke cafe kecil nan cozy, namanya "We Made Taste".

Cafe ini berada di daerah Srondol, Semarang. Tepatnya di Jl. Murbei III/3 kompleks Bina Marga (sesuai sama cover buku menu di atas). Untuk yang belum pernah dan ngga tau daerahnya pasti bingung nyari tempatnya, karena cafe kecil ini nyatu sama rumah-rumah lainnya di kompleks perumahan Srondol Banyumanik. Perumahannya pun agak susah ditemui karena namanya ngga terlalu terkenal didenger mahasiswa. Begini cara bodohnya untuk sampai ke We Made, dari patung kuda diponegoro belok kiri (kalau dari arah ngesrep) atau lurus terus (kalau dari arah gombel). Ikutin terus sepanjang jalan setiabudi itu sampai ketemu SPBU sebelah kanan jalan, tepat disebelah kiri jalan (depan SPBU persis) ada gang masuk aja. Lurus terus sampai menuju perumahan yang dimaksud, setelah itu ada percabangan ambil kiri, lurus terus, gang pertama jangan belok, ketemu gang kedua baru belok. Kalau nemu teras rumah yang rame dan didesain retro vintage berarti berhasil nemu cafe We Made nya dan saya berhasil mengarahkan, tapi kalau ngga ketemu berarti arahan saya sukses bikin nyasar ! hahaha, but 90% kalau niat nyari pasti ketemu. Cafe ini udah cukup lumayan terkenal dikalangan mahasiswa-mahasiswa gaul Tembalang.
Cafe ini berada di daerah Srondol, Semarang. Tepatnya di Jl. Murbei III/3 kompleks Bina Marga (sesuai sama cover buku menu di atas). Untuk yang belum pernah dan ngga tau daerahnya pasti bingung nyari tempatnya, karena cafe kecil ini nyatu sama rumah-rumah lainnya di kompleks perumahan Srondol Banyumanik. Perumahannya pun agak susah ditemui karena namanya ngga terlalu terkenal didenger mahasiswa. Begini cara bodohnya untuk sampai ke We Made, dari patung kuda diponegoro belok kiri (kalau dari arah ngesrep) atau lurus terus (kalau dari arah gombel). Ikutin terus sepanjang jalan setiabudi itu sampai ketemu SPBU sebelah kanan jalan, tepat disebelah kiri jalan (depan SPBU persis) ada gang masuk aja. Lurus terus sampai menuju perumahan yang dimaksud, setelah itu ada percabangan ambil kiri, lurus terus, gang pertama jangan belok, ketemu gang kedua baru belok. Kalau nemu teras rumah yang rame dan didesain retro vintage berarti berhasil nemu cafe We Made nya dan saya berhasil mengarahkan, tapi kalau ngga ketemu berarti arahan saya sukses bikin nyasar ! hahaha, but 90% kalau niat nyari pasti ketemu. Cafe ini udah cukup lumayan terkenal dikalangan mahasiswa-mahasiswa gaul Tembalang.
Rabu, 04 Desember 2013
Tentang Ibu Dosen
Kali ini ceritaku datang dari sosok seorang wanita paruh baya cantik nan pintar, akhir-akhir ini cukup banyak bagian dari kami yang mengagumi ibu dosen satu ini. Sebut saja mrs TW, umurnya sekitar 40 tahunan. Masih terbilang muda untuk menjadi dosen senior, aku rasa sudah cukup lama beliau mengajar di kampus MIPA Universitas Diponegoro. Pertama kali diajar oleh beliau saat kuliah semester 5 di mata kuliah horor, Kimia Fisik 3. Saat itu, aku dan teman-teman mengenalnya sebagai sosok ibu dosen muda yang luar biasa galak dengan mata kuliah yang super susah dimengerti. Mata kuliahnya bikin nyesel kuliah di kimia. Tapi kini di perkuliahan semester 7, anggapan tentang mrs TW sudah berubah sampai 180 derajat.
Selasa, 26 November 2013
Selamat Hari Guru
"Pada guru, kita titipkan persiapan masa depan bangsa ini."
Demikian kata-kata ini saya kutip dari Pak Anies Baswedan dalam website resminya. Sedikit, singkat, dan padat kata-kata itu begitu mengena sangat dalam. Kau ingat kawan, ketika negara Jepang dibombardir oleh tentara sekutu? Negara matahari terbit itu luluh lantak, tak ada materi apapun yang tersisa. Yang terpikir oleh pemerintah Jepang pada saat itu adalah mencari berapa banyak guru yang masih hidup untuk mengajar rakyat-rakyatnya yang tersisa. Ya, mereka membangun kembali bangsa yang sudah hancur dan tak punya apa-apa itu melalui pendidikan. Efeknya luar biasa ! Yang saya tahu, sampai hari ini Jepang menjadi salah satu negara termaju di dunia dengan merajai industri teknologi, otomotif, dan barang-barang elektronik.
Sebut saja HONDA, rasa-rasanya sebagian besar motor milik penduduk Indonesia berlabel 'honda'. Ah, aku saja sampai tak bisa menghitung ada berapa saking banyaknya. Itulah, salah satu contoh kehebatan negeri yang dibangun dari pendidikan dengan menghargai keberadaan sosok guru.
"Cara kita menghargai guru adalah cara kita menghargai masa depan." *ngutip kata-kata pak Anies (lagi)*
Kini, semua orang mengenalnya sebagai pahlawan. Pahlawan tanpa tanda jasa...
Demikian kata-kata ini saya kutip dari Pak Anies Baswedan dalam website resminya. Sedikit, singkat, dan padat kata-kata itu begitu mengena sangat dalam. Kau ingat kawan, ketika negara Jepang dibombardir oleh tentara sekutu? Negara matahari terbit itu luluh lantak, tak ada materi apapun yang tersisa. Yang terpikir oleh pemerintah Jepang pada saat itu adalah mencari berapa banyak guru yang masih hidup untuk mengajar rakyat-rakyatnya yang tersisa. Ya, mereka membangun kembali bangsa yang sudah hancur dan tak punya apa-apa itu melalui pendidikan. Efeknya luar biasa ! Yang saya tahu, sampai hari ini Jepang menjadi salah satu negara termaju di dunia dengan merajai industri teknologi, otomotif, dan barang-barang elektronik.
Sebut saja HONDA, rasa-rasanya sebagian besar motor milik penduduk Indonesia berlabel 'honda'. Ah, aku saja sampai tak bisa menghitung ada berapa saking banyaknya. Itulah, salah satu contoh kehebatan negeri yang dibangun dari pendidikan dengan menghargai keberadaan sosok guru.
"Cara kita menghargai guru adalah cara kita menghargai masa depan." *ngutip kata-kata pak Anies (lagi)*
Kini, semua orang mengenalnya sebagai pahlawan. Pahlawan tanpa tanda jasa...
Langganan:
Postingan (Atom)
